Kamis, 18 Januari 2007

Bertanyalah Pada Ahli Dzikir

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya adalah ulama." (Faathir [35]: 28)

Ibnu Katsir mengatakan bahwa orang yang benar-benar takut kepada Allah hanyalah para ulama. Mengapa demikian? Karena semakin sempurna pengetahuan seseorang tentang sifat-sifat Allah yang menyifati diri-Nya dengan sifat-sifat sempurna seperti pada Asma’ al-Husna, dan semakin lengkap dan sempurnanya pengetahuan itu, maka rasa takut yang ditimbulkannya akan semakin kuat.

Sufyan ats-Tsauri mengatakan, “Ada tiga kategori ulama: pertama, ulama yang mengenal Allah dan mengetahui perintah dan ketentuan-Nya; kedua, ulama yang mengenal Allah dan tidak mengenal perintah dan ketentuan-Nya; ketiga, ulama yang mengenal perintah dan ketentuan-Nya dan tidak mengenal Allah.”

Ulama adalah seorang yang memiliki ilmu pengetahuan. Dalam konteks ayat di atas, ilmu yang benar adalah ilmu yang mengantarkan pemiliknya kepada mengenal Allah dan membuatnya merasa takut dan mengharapkan ridha-Nya.

Kemudian timbul pertanyaan, jika pintu menuju rasa takut kepada Allah adalah ilmu pengetahuan, maka apakah pintu menuju ilmu pengetahuan itu? Jawabannya adalah bertanya. Bertanya adalah salah satu pintu masuk kepada ilmu pengetahuan.

Di dalam Al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang mengandung perintah untuk bertanya. Setiap ayat itu, memiliki maksud dan tujuan tertentu, seperti pada firman-Nya,

“Jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu. Sesungguhnya telah datang kebenaran kepadamu dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.” (Yunus [10]: 94)

Tidak semua hal yang kita ketahui atau ilmu pengetahuan yang kita miliki akan membuat kita meyakininya sebagai kebenaran mutlak. Ada kalanya kita mengetahui sesuatu, namun belum meyakini kebenarannya, meski kita telah memperoleh banyak bukti yang membenarkannya.

Pada ayat di atas, Allah swt. menyuruh Rasulullah saw. untuk bertanya. Tersirat di dalamnya bahwa Rasulullah memiliki rasa ragu di dalam dirinya. Beliau adalah seorang Nabi dan utusan Allah yang menerima wahyu langsung. Akan tetapi, Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam pikiran dan hati hambanya, sehingga Dia memerintahkannya untuk bertanya. Jika seorang Nabi saja pernah memiliki keraguan di dalam hatinya, bagaimana dengan kita?

Ayat di atas mengandung perintah untuk bertanya di saat kita merasa ragu, karena bertanya akan menghilangkan keraguan dari hati dan pikiran.

Contoh yang paling sederhana saya ilustrasikan dengan cerita berikut.

Suatu saat, Anda mengunjungi suatu tempat yang sudah lama tidak Anda datangi. Karena lama tidak Anda kunjungi, ada beberapa ruas jalan yang masih Anda ingat, namun ada juga yang membuat Anda ragu. Ketika Anda tiba di suatu jalan yang pernah dilewati, Anda tidak terlalu yakin bahwa jalan itu benar-benar akan mengarah ke tujuan yang Anda inginkan. Hal terbaik yang harus Anda lakukan adalah bertanya kepada siapa pun di sekitar tempat itu yang Anda yakini lebih mengetahui dari Anda.

Bila jawaban orang itu berbeda dengan perkiraan Anda, maka Anda beruntung, karena tidak harus melewati jalan yang salah. Akan tetapi, bila jawabannya sesuai dengan perkiraan Anda, maka hal itu akan membuat Anda lebih yakin bahwa jalan yang Anda lalui adalah benar, sehingga hati pun menjadi lebih tenang.

Hal ini pula yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim a.s. saat dia meminta kepada Allah untuk memperlihatkan bagaimana Dia menghidupkan kembali makhluk yang sudah mati. Allah swt. menceritakan hal itu dalam firman-Nya,

“(Ingatlah) ketika Ibrahim berkata, ‘Ya Tuhanku, perlihatkanlah padaku bagaimana Engkau menghidupkan orang mati.’ Allah berfirman, ‘Belum yakinkah kamu?’ Ibrahim menjawab, ‘Aku telah meyakininya, tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku).’ Allah berfirman, ‘(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cingcanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman), ‘Letakkan di atas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.’ Dan ketahuilah bahwa Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (al-Baqarah [2]: 260)

Ada beberapa sebab yang mendorong Nabi Ibrahim untuk menanyakan hal itu kepada Allah swt. Di antaranya adalah ketika dia sendiri berkata kepada raja Namrud, "Tuhanku adalah Yang Menghidupkan dan Mematikan." Itu adalah perkataan yang memancing rasa ingin tahunya sehingga dia meminta kepada Allah untuk memperlihatkan cara-Nya menghidupkan makhluk yang sudah mati.

Ibrahim lebih suka agar keyakinannya mencapai tingkat 'ainul Yaqiin (keyakinan yang timbul dari pengalaman langsung) daripada sekadar haqqul Yaqiin (keyakinan yang tidak timbul dari pengalaman langsung). Maka dia pun meminta kepada Allah untuk menunjukkan kepadanya bagaimana Dia menghidupkan makhluk yang telah mati.[1]

Allah kemudian memerintahkannya untuk mengambil empat ekor burung. Beberapa riwayat mengatakan bahwa burung yang diambilnya adalah angsa, merpati, ayam, dan burung merak. Ibrahim kemudian memotong burung-burung itu, mencabuti bulu-bulunya, mencincang tubuhnya lalu mengaduk cincangan itu sehingga keempat tubuh burung itu bercampur, sedangkan kepalanya dia pegang. Dia lalu meletakkan cincangan tubuh burung itu di atas empat buah bukit.

Setelah itu, dia memanggilnya. Ibrahim pun melihat bulu-bulu burung itu terbang. Darah yang tadinya tercecer kini mengalir menuju potongan daging yang mulai bergabung membentuk tubuh aslinya. Setelah tubuh burung itu terbentuk kembali, keempatnya berjalan ke arah Nabi Ibrahim untuk mengambil kepala masing-masing. Ketika Ibrahim menyodorkan kepala yang bukan kepalanya, tubuh burung itu menolak, dan ketika yang disodorkan adalah kepala aslinya, kepala itu langsung menyatu dengan tubuh yang tadinya tercincang. Begitulah Allah memperlihatkan kemahakuasaan dan keperkasaan-Nya kepada Nabi Ibrahim as.[2]

Keraguan yang ada pada diri Ibrahim bukan keraguan yang timbul dari tidak adanya ilmu dan tidak adanya keyakinan. Akan tetapi, keraguannya muncul dari keyakinan dan pengetahuan bahwa Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu. Pengetahuan yang benar-benar diyakini kebenarannya akan menimbulkan ketenangan hati dan hilangnya rasa ragu dari dalam diri.

Simak pula firman Allah swt. berikut ini,

“Mereka menjawab, ‘Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung.’" (al-Mu’minuun [23]: 113)

Bertanya adalah kunci untuk mengetahui sesuatu. Dalam pertanyaan, ada obyek dan ada subyek yang ditanya. Setiap orang memiliki perbedaan dalam pengetahuan sesuai dengan disiplin ilmu yang mereka dalami. Maka, tempat bertanya pun harus sesuai dengan subyek yang dipertanyakan.

Jika ingin bertanya tentang Matematika, tanyakanlah kepada ahli Matematika. Maka Anda akan memperoleh jawaban yang benar dan tepat, sehingga hati pun merasa puas. Bila Anda menanyakan tentang Matematika kepada seorang ahli Filsafat, tentu Anda akan sulit memperoleh jawaban yang tepat, dan yang ditanya pun akan kesulitan menjawabnya, sehingga hati Anda akan diselimuti keraguan karena tidak mendapat jawaban yang pasti.

Jawaban dari pertanyaan akan membuat hati menjadi tenteram bila jawaban itu benar dan tepat. Sebaliknya, bila jawaban itu tidak tepat dan tidak benar, ia akan menyisakan setumpuk pertanyaan lain yang mengganggu ketenangan dan ketenteraman hati Anda.

“Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.” (an-Nahl [16]: 43)

Lebih tegas lagi dalam ayat ini, Allah swt. ingin meyakinkan kepada Rasul-Nya Muhammad saw. tentang wahyu yang diturunkan kepada para nabi sebelumnya. Pada bagian akhir ayat itu, Allah swt. mengatakan, "...maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui."

Di dalam teks Arabnya, kalimat "Orang yang mempunyai pengetahuan" disebutkan dengan "Ahladz Dzikr." Kebanyakan ahli tafsir menafsirkan "Ahladz Dzikr" dengan ulama-ulama Ahlul Injil dan Taurat. Mereka lebih mengetahui tentang kitab-kitab yang Allah turunkan kepada para nabi sebelum Muhammad saw.

Ada yang perlu dicermati mengapa Allah swt. menggunakan kata "Ahladz Dzikr" sebagai tempat untuk mengajukan pertanyaan apabila kita tidak mempunyai pengetahuan tentang suatu perkara. Dalam hal ini, Allah tidak memakai istilah "Ahlul 'ilmi" yang kalau dalam konteks pengetahuan dan tata bahasa Arabnya lebih dekat dengan makna “orang yang lebih mengetahui.” Sementara "Ahladz Dzikr" lebih dekat maknanya dengan “Orang yang suka berzikir (atau mengingat Allah).”

Terdapat beberapa ayat di dalam Al-Qur’an, di mana Allah menggunakan kata “dzikr”.

1. Kata “Dzikr” senantiasa digandengkan dengan nama-Nya, yang berarti "ingat kepada Allah." Seperti dalam surah al-Maa'idah ayat 91.

“Sesungguhnya setan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu).” (al-Maa'idah [5]: 91)

2. Kata “Dzikr” berarti peringatan dan pelajaran dari Allah swt. untuk manusia.

“Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepada kamu peringatan dari Tuhanmu dengan perantaraan seorang laki-laki dari golonganmu agar dia memberi peringatan kepadamu dan mudah-mudahan kamu bertakwa dan supaya kamu mendapat rahmat?” (al-A'raaf [7]: 63)

3. Kata “Dzikr” berarti ayat dan kitab Allah yang diwahyukan kepada para nabi-Nya.

“Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al-Qur’an pun yang baru (diturunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya, sedang mereka bermain-main.” (al-Anbiyaa’ [21]: 2)

Dari ketiga makna “Dzikr” yang Allah gunakan di dalam Al-Qur’an itu, maka dapat disimpulkan bahwa "Ahladz Dzikr" itu berarti orang yang selalu ingat kepada Allah, mengambil pelajaran dari Al-Qur’an serta mengikuti petunjuk Allah yang tercantum di dalamnya.

Ahladz Dzikr” yang dijadikan obyek untuk menanyakan banyak hal tentang ilmu pengetahuan dan perkara lainnya, tidak semata-mata memiliki kapasitas intelektual dan komposisi pengetahuan yang banyak. Akan tetapi, ia juga memiliki keakraban spiritual dengan pencipta-Nya. Setiap tutur kata dan tingkah lakunya selalu didasarkan atas petunjuk dari Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah saw.

Oleh karena itu, apabila Anda tidak memiliki pengetahuan tentang suatu urusan atau perkara, maka bertanyalah kepada Ahladz Dzikr (bukan "Ahlal 'Ilmi" atau "Ahlal Fikr") agar Anda memperoleh pengetahuan yang bisa memberikan ketenangan hati dan pikiran.



[1] Tafsir Ibnu Katsir.

[2] Ibid.

1 komentar:

tamim mengatakan...

--Ibrahim lebih suka agar keyakinannya mencapai tingkat 'ainul Yaqiin (keyakinan yang timbul dari pengalaman langsung) daripada sekadar haqqul Yaqiin (keyakinan yang tidak timbul dari pengalaman langsung).

Maaf, sepanjang yang saya tahu haqqul yaqin itu justru lebih tinggi dari ainul yaqin. Mungkin yg anda maksudkan adalah ilmul yaqin. Mohon dikoreksi kalo saya salah