Selasa, 16 Januari 2007

Ketika Kebaikan Kecil Membawa Kesuksesan Besar

Ada sebuah kisah yang sangat menggugah saya ketika masih bertugas di Duri, Riau. Yaitu kisah dari pengalaman saya ketika mengurus izin pendirian Koperasi Pondok Pesantren (Koppontren) al-Jauhar di Bengkalis, Riau.
Ketika akan pulang, saya memesan tiket kapal lebih awal agar memperoleh tempat duduk dan bisa beristirahat dengan cukup dalam pelayaran ke Dumai. Saya memperlihatkan tiket kepada petugas saat memasuki kapal, kemudian dia mengantarkan saya ke nomor kursi yang tertera pada tiket itu. Akan tetapi, kursi dengan nomor yang dimaksud telah ditempati oleh seorang nenek tua. Petugas pun meminta tiketnya, ternyata nenek itu belum mempunyai tiket.
Saya mengamati keadaan di sekeliling, tapi tidak ada lagi kursi kosong. Semuanya sudah ditempati. Perasaan iba terhadap nenek itu muncul dalam hati sehingga saya biarkan dia menempati tempat duduk saya. Saya memilih untuk berdiri di antara barisan kursi penumpang lain, padahal perjalanan dari Bengkalis ke Dumai cukup lama dan melelahkan. Tidak berapa lama saya berdiri, petugas yang tadi mengantarkan saya datang dan memberi tahu nenek itu bahwa di salah satu sudut kapal itu masih ada satu kursi yang kosong. Dia kemudian mempersilakan saya menempati kursi itu.
Di sebelah kanan saya, duduk seorang bapak yang memakai baju putih dan berkopiah. Dia menyapa saya dan bertanya, “Mau ke Dumai ya?” Saya mengiyakannya. Dia menanyakan nama, alamat, dan keperluan saya pergi ke Bengkalis. Dia juga menanyakan status pernikahan saya. Saya menjawab semua pertanyaannya secara jujur. Tidak lama kemudian kami menjadi akrab dan saling bertukar cerita.
Dia bercerita, “Waktu aku seusia kamu, aku sudah ingin menikah, dan aku sudah menemukan gadis yang menarik hatiku. Tetapi, aku belum tahu banyak tentang keluarganya, dan tidak ada satu pun keluarganya yang kukenal.”
Dia berhenti sejenak sambil menghela napas panjang. Saya mengamati raut wajahnya yang agak tersenyum. Dia lalu melanjutkan ceritanya, “Ketika aku melihat sikap kamu terhadap nenek tadi, aku jadi ingat kenangan masa laluku.”
Saya sangat penasaran mendengar kata-kata itu, saya mendesaknya untuk segera menceritakan kenangannya.
“Suatu hari, aku pergi ke Dumai. Dalam perjalanan pulang, aku mendapatkan tempat duduk di dalam bus yang aku naiki. Ketika sampai di daerah Simpang Bangko,[1] ada seorang nenek yang baru naik. Sementara semua kursi telah terisi.
Akhirnya, nenek itu berdiri dan tidak ada seorang penumpang pun yang mengasihi dan mempersilakannya duduk. Aku jadi tidak tega melihatnya. Aku mempersilakannya duduk di kursiku. Dia sangat berterima kasih, lalu menanyakan nama dan daerah asalku, di mana aku turun, dan sebagainya. Dia memberi tahuku bahwa dia akan turun di daerah Bangko Sempurna.[2]
Dalam pikiranku, aku berharap semoga ada penumpang yang turun sebelum daerah itu, sehingga aku bisa mendapatkan tempat duduk. Akan tetapi, justru lebih banyak penumpang yang naik daripada yang turun.
Setelah dua jam perjalanan, akhirnya nenek itu sampai ke tempat tujuannya di daerah Bangko Sempurna. Sementara aku sudah kelelahan karena berdiri selama dua jam di dalam bus yang penuh sesak itu. Nenek itu menyentuh pundakku sambil mengucapkan terima kasih dan mendoakan semoga aku selamat.
Aku pun duduk kembali dan melupakan sama sekali peristiwa itu. Aku menganggapnya seolah tidak pernah terjadi. Aku sama sekali tidak ingat lagi dengan kejadian itu.
Sekitar empat bulan kemudian, aku dan calon istriku telah sepakat untuk menikah. Dia ingin agar aku bertandang ke rumahnya. Dia ingin memperkenalkanku dengan keluarganya. Dia menceritakan kepadaku bahwa di antara keluarganya yang tidak menyetujui hubunganku dengan dia adalah ayahnya. Mendengar itu, aku jadi kurang yakin, sehingga pada awalnya aku ingin ‘mundur’ saja, tetapi dia mendesak agar aku menghadap ayahnya langsung dan berterus terang kepadanya.
Dengan modal ‘Bismillah’ dan shalat sunnah dua rakaat, aku datang ke rumahnya membawa perasaanku yang tidak menentu.
Ibunya menyambutku ramah, tetapi tidak dengan ayahnya. Meski demikian, aku berusaha tersenyum ramah dan mencium tangan keduanya. Aku mengamati wajah ayahnya yang acuh terhadap ungkapanku yang jujur ingin menikahi putrinya. Dia bersikeras dengan alasan yang dibuat-buat. Aku sampai mengulang berkali-kali mengutarakan keinginanku, tetapi tetap tidak mampu mengubah pendiriannya. Aku pasrah dan sedikit merasa berputus asa.
Di antara kebisuanku di depan keluarganya, tiba-tiba muncul seorang nenek. Aku merasa seolah pernah bertemu nenek itu. Aku berpikir dan mencoba mengingat-ingat. Nenek itu memandangiku tajam. Dia seolah sedang berpikir juga dan aku segera menyalaminya. Dia lalu menatap wajah putranya (ayah gadis itu) dan menanyakan pendapatnya tentang aku. Ayah gadis itu mengambil tangan ibunya dan membawanya masuk ke sebuah ruangan di dalam rumah. Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan. Pikiranku masih mencoba mengingat di mana aku pernah bertemu dengan nenek itu. Namun, aku tetap tidak mampu mengingatnya.
Setelah cukup lama duduk menunggu. Semua anggota keluarga gadis itu tiba-tiba berhamburan ke dalam ruangan tempat ayah dan nenek gadis itu masuk. Mereka semua seperti dipanggil untuk memusyawarahkan urusanku. Aku duduk seorang diri di ruang tamu, sambil mengharap jawaban yang membahagiakan. Perasaanku tidak menentu. Dalam pikiranku aku mempersiapkan diri untuk diterima atau ditolak.
Nenek itu kemudian keluar sambil diiringi oleh semua anggota keluarganya, termasuk ayahnya. Dia menatapku dan aku masih berusaha mengingat di mana kami pernah bertemu. Dia lalu bertanya kepadaku, “Apakah kamu kenal aku?”
Aku menjawab, “Saya tidak kenal, tapi sepertinya saya pernah bertemu nenek sebelum ini. Tetapi, saya tidak ingat di mana?” Jawabku sambil tetap berusaha mengingat tempat kami pernah bertemu.
“Kalau begitu, keinginanmu untuk menjadi salah satu anggota keluarga kami..., diterima!”
Semua anggota keluarga itu pun tersenyum. Suara riuh mendadak memenuhi isi rumah. Beberapa dari mereka sempat bertepuk tangan. Aku melihat calon istriku itu tersipu-sipu sambil memalingkan wajahnya ke dinding rumah dan tersenyum.
Di antara sorak riang dan kegembiraan mereka, aku masih tetap berusaha mengingat di mana aku pernah bertemu nenek itu. Akhirnya, nenek itu pun menceritakan kepadaku di mana dia pernah bertemu denganku.”
Bapak itu tersenyum dan mengakhiri ceritanya dengan berucap, “Alhamdulillah, anakku sekarang sudah empat orang.”
Kita terkadang sering tidak memperhatikan kebaikan yang nilainya terasa kecil, dan kita tidak peduli terhadapnya. Seperti dalam kendaraan umum, ketika ada orang-orang yang sudah tua, wanita hamil, orang cacat dan sebagainya, dan mereka tidak memperoleh tempat duduk, sementara kita masih kuat dan sehat. Kita lebih memilih membiarkan mereka berdiri, meski kondisi mereka lemah.
Mendahulukan mereka adalah lebih baik dan merupakan akhlak mulia. Tanpa mengharapkan balasan dan tidak perlu mengharapkan imbalan apa pun dari mereka, karena imbalan dan balasan yang paling baik hanya ada di sisi Allah swt. Hanya kepada-Nyalah kita mengharapkan balasan.
Maka dari itu, jangan meremehkan suatu kebaikan meski kelihatan remeh. Karena bisa jadi, suatu saat, kebaikan kecil yang pernah kita lakukan, menjadi faktor terpenting yang menentukan kesuksesan besar yang kita raih.

[1] Daerah yang terletak antara Dumai dan Bagan Batu.
[2] Bangko Sempurna adalah daerah antara Ujung Tanjung dan Bagan Batu. Dari Simpang Bangko sekitar dua jam perjalanan dengan angkutan umum.

0 komentar: