Kondisi nyata pendidikan dan perekonomian mayoritas umat Islam, saat ini, berada pada tingkat yang sangat rendah. Menurut Azizy (2004), beberapa faktor penyebab hal tersebut, terutama, adalah kesalahan pemahaman dan penafsiran terhadap ajaran Islam. Ajaran dalam praktek, yang biasanya diyakini oleh mayoritas umat Islam, tidak menyentuh tuntutan kemajuan ekonomi di dunia, karena ajaran yang mereka terima dari para mubaligh dan ustadz, kadang-kadang, kontradiktif dengan ideal ajaran Islam. Hal ini juga disebabkan, oleh adanya paradigma yang menyatakan bahwa Ilmu Agama terpisah dari Ilmu Umum, sehingga pemahaman umat terhadap agama tidak menyentuh ke dalam aktivitas kehidupan sehari-hari yang dirasakan semakin jauh dari nilai-nilai keagamaan. Semangat ideal ajaran Islam, pada hakekatnya mengajak untuk kemajuan, prestasi, kompetisi sehat, dan kemampuan memberikan rahmat untuk alam semesta (QS. Al-Anbiya/ 21:107) serta melepaskan manusia dari dunia yang gelap dan sesat menuju dunia terang (QS. Al-Ahzab/ 33:43) dan pada intinya ajaran Islam merupakan petunjuk bagi manusia (QS. Al-Baqarah/ 2:185) yang dapat diartikan bahwa ajaran Islam itu berlaku secara komprehensif dan universal. Namun dalam realita, ajaran Islam diterima dan diartikan sebagai ajaran-ajaran yang pada intinya menjauhkan diri dari hiruk pikuk keduniaan dan memfokuskan ibadah hanya semata-mata kepada akhirat, sehingga pemaknaan dan pemahamannya menjadi penghambat kemajuan keduniaan, dan akhirnya menyebabkan kontradiktif antara semangat ajaran motivasi Islam yang menyuruh umatnya makmur di dunia dan jaya di akhirat dengan realita umat yang terbelakang dalam berbagai aspek. Beberapa praktek terhadap ajaran motivasi Islam yang dipahami dengan keliru di tengah-tengah umat Islam, antara lain, seperti istilah sabar, qanaah (sikap menerima), tawakkal (sikap pasrah), insya Allah (jika Allah menghendaki), zuhud (anti keduniaan), dan sejenisnya. Istilah-istilah ini dalam pemahaman sehari-hari sering dijadikan landasan hidup, seolah memberikan justifikasi kepada umat Islam terhadap apa yang dilakukan dengan konotasi yang negatif, yakni lamban, terbelakang, kemalasan, dan semacamnya. Padahal arti yang sebenarnya harus berkonotasi positif, tidak menghambat kemajuan ekonomi dan perkembangnnya, sebagaimana yang diuraikan berikut ini. (a) Sabar mengandung arti proses menuju keberhasilan yang tidak mengenal kegagalan, karena disertai sikap tangguh, pantang menyerah, teliti, tabah, dan tidak mudah putus asa, namun pemahaman yang terjadi pada umat adalah sabar dianggap sebagai sikap yang tidak cepat-cepat dan perlahan, sehingga identik dengan lamban. (b) Qanaah mengandung arti sikap yang jujur untuk menerima hasil sesuai dengan kerjanya, tidak serakah, tidak menuntut hasil yang lebih dengan kualitas kerja yang rendah, tidak iri dan dengki, tidak menghayal di luar kemampuannya, atau dengan kata lain qanaah berarti produktivitas yang dihasilkan sesuai dengan kemampuan dan tingkat kerja yang dilakukan, tetapi dalam pemahaman umat, qanaah dipahami sebagai sikap menerima apa adanya dan berkonotasi mudah menyerah, sehingga tuntutan untuk kemajuan dianggap sebagai hal yang tidak perlu. (c) Tawakkal mengandung arti sikap akhir setelah bekerja dan berusaha keras secara maksimal dan dilakukan berulangkali dengan menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah, tetapi dalam pemahaman yang terjadi adalah sikap yang menyerahkan diri dan cita-cita kepada keadaan tanpa perlu adanya suatu usaha maksimal atau sikap fatalis. (d) Insya Allah mengandung arti kesanggupan seseorang memenuhi janji secara serius dan hanya alasan di luar kekuasaan dirinya yang dapat membatalkan janji tersebut, tetapi dalam pemahaman dan pengamalannya terdapat kekeliruan besar terhadap perkataan insya Allah tersebut, yakni dijadikan alat untuk menghindari atau mengelakkan janji di balik nama Allah. (e) Zuhud, mengandung arti meninggalkan hal-hal yang menyebabkan jauh dari Allah atau dipahami sebagai anti keserakahan, namun yang terjadi dalam praktek dipahami sebagai anti keduniaan atau anti harta. Menurut Qardhawi (1977) hadits-hadits yang memuji sikap zuhud bukan berarti memuji kemiskinan, tetapi berarti memiliki sesuatu dan menggunakannya secara sederhana. Orang zahid adalah mereka yang memiliki dunia dengan meletakkannya di tangan bukan di dalam hati. Menurut ajaran Islam, kekayaan adalah nikmat dan anugerah Allah SWT yang harus disyukuri, dan kemiskinan adalah masalah bahkan musibah yang harus dilenyapkan, serta tidak ada satu pun ayat Al Quran yang memuji kemiskinan dan tidak ada sebaris hadits sahih yang memujanya.
Penulis: MERZA GAMAL (Pengkaji Sosial Ekonomi Islami)
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)
0 komentar:
Poskan Komentar